Buku "100 orang Angkat Pena Demi Dialog Papua" merupakan salah satu bentuk dan wujud ekspresi orang Indonesia, dari Aceh sampai tanah Papua yang bersama-sama merasakan perjalanan panjang penderitaan orang Papua yang sampai sekarang masih terbelenggu oleh lilitan kekerasan, stigma dan berbagai bentuk intimidasi yang tidak habis-habisnya sampai di abad ke-21 ini.
Kumpulan tulisan di media massa yang ditulis ulang oleh penulis selama kurun waktu 2006-2012. Menjelaskan tipologi konflik dan menawarkan gagasan dan perspektif kelola konflik.
Penerbitan buku ini merupakan bagian dari program pendidikan perdamaian yang dilaksanakan oleh Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga Jawa Tengah. Terdiri dari 13 bab, buku ini berusaha menghadirkan perspektif lokal dalam memandang masalah perdamaian di Indonesia.
Dalam modul ini konflik dimaknai dalam artian yang lebih luas, dengan asumsi dasar, bahwa setiap orang mempunyai pengalaman berkonflik, dari bentuk yang paling sederhana hingga bentuk yang bereskalasi lebih tinggi. Fokus perhatian dalam modul ini adalah penyelesaian konflik secara konstruktif dengan menghindari cara-cara kekerasan.
Tulisan dalam buku ini mencakup lima belas (15) pokok. (1) menggambarkan pentingnya dialog Jakarta-Papua guna menyelesaikan konflik Papua secara damai, (2) memperlihatkan adanya kemauan untuk berdialog dari kedua belah pihak yang bertikai, (3) mengangkat pentingnya pernyataan publik orang Papua bahwa isu kemerdekaan Papua tidak akan dibahas dalam dialog, (4) menekankan pentingnya Pemerintah…
This book highlights civil justice in the Commonwealth Caribbean, from litigation to alternative dispute resolution (ADR) processes.