Berkisah tentang kehidupan komunitas Tahanan Politik (Tapol) PKI di daerah pengasingan mereka di Moncongloe, Sulawesi selatan. Buku ini menyingkap bagaimana proses pelabelan Orde Baru terhadap mereka yang dianggap PKI, bagaimana kehidupan mereka di penjara, kontrol dari agen-agen negara di sana, lalu berpindah ke Kamp Pengasingan di Moncongloe, suatu kamp pengasingan yang dikontrol oleh militer…
Kisah ini kudapat dari catatan-catatan panjang seorang sahabatku, Adi Suwardi; yang berharap kisah ini bisa dibaca anak cucunya. Agar mereka tahu, bahwa bapaknya, kakeknya, kakek buyutnya, pernah mengalami penggalan priode sejarah yang hitam, penuh jelaga. Jelaga kebencian. Manusia dijadikan buruan, dibunuh, dirampas hartanya, dan di perkosa. Tak ada harga. Ditangkapi, dibui belasan tahun, …
Buku ini mengenai sejarah politik Peristiwa G30S yang terjadi pada tahun 1965 yang dituangkan melalui penuturan lisan 260 orang korban di seluruh Indonesia.Sejarah lisan yang mendobrak segala kebakuan menyangkut peristiwa sejarah maupun tentang pemahaman metodologi sejarah itu sendiri.
Buku ini terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasan Inggris, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia bekerja sama dengan Hasta Mitra pada Januari 2008. Versi softcopy bisa lihat dan unduh di http://j…
Prolog: Hersri Setiawan, Salahuddin Wahid, Baskara T. Wardaja; Epilog Paul de Blot, SJ. Buku ini tentang keluaraga penulis yang merupakan keluarga korban peristiwa 1965 yang berhasil lolos.
Penyajian tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkapkan Peristiwa G 30 S dan meluruskan sejarah bangsa yang sampai kini belum terungkap.
Buku ini tentang pengalaman hidup Tan swie Ling, seorang eks tapol G30S. Dimulai pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentag G30S. -- Kata pengantar: Ben Anderson
Buku ini mengeksplorasi berbagai dalih pendasaran mengapa stigmatisasi dan diskursus anti komunis masih kuat terserap dalam ingatan kolektif masyarakat. Melalui pendekatan hermeneutika, buku ini menyumbang analisis dan interpretasi tentang bagaimana modus 'politik pelabelan' ini dipraktikkan.