Digital_Files
Perempuan Miskin Kota di Hadapan Neoliberalisme
Perempuan di hadapan kota metropolitan, seperti Jakarta telah menjadi subjek yang diobjekkan dalam suatu mekanisme pasar sebagai penyokong "kota modern" yang disebut neoliberalisme. Pada mekanisme pasar neoliberal, segala hal disandingkan dalam "etalase toko" atau posisi "menjual" untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dengan mensyaratkan lepas tangan tanggung jawab negara terhadap proteksi dan subsidi rakyatnya untuk diserahkan pada mekanisme pasar yang penuh dengan persaingan dan eksploitasi yang bersinggungan langsung dengan perlindungan hak-hak ekonomi, sosial, dan politik.
Perempuan miskin merupakan entitas yang paling merasakan dampak buruk dari agenda-agenda neoliberalisme karena berada di posisi subordinat dalam kultur partiarki, lemah secara ekonomi, clan secara sosial mengalami alienisasi dan deskreditasi sosial berdasarkan kelas ekonomi dan struktur politik di hadapan kelompok masyarakat yang memiliki basis ketahanan ekonomi clan kekuasaan politik relatif kuat.
Tidak tersedia versi lain